Entahlah, kenapa selalu saja ada yang membangkitkan kegelisahan dan frustasi seperti monster yang bangkit kembali setelah terkubur bertahun-tahun. Merasa frustasi, mungkin adalah hal biasa. Namun kebanyakan bahkan hampir semua orang tidak mau merasa hal itu adalah biasa pada saat frustasinya menguasai dan menggerogoti otak dan syaraf.
Menelusuri apa sebenarnya yang sedang terjadi membuat kita kadang harus mengernyitkan dahi dalam-dalam, yang kemudian biasanya berakhir dengan senyuman atau dengan kemarahan.
Aku marah, ya aku marah saat ini. Dan aku tak tahu pasti apa penyebabnya. Aku tertekan, iya aku pun tertekan, namun aku terlalu letih untuk memeriksa apa yang menekanku begitu kuat.
Jika saja hidup ini adalah sebuah sistem komputer yang bisa di-restart ketika sudah mendekati overheating, maka akan sedikit lebih menarik.
Kadang teringat kata-kata arogan Kurt Cobain kepada dirinya sendiri, "I hate myslef, and I want to die..." namun pastinya itu hanya menambah babak baru dalam masalah yang akan dihadapi di dimensi lain.
Kenyataan memang terkadang menjadi sangat sangat berat untuk dihadapi. Dan seakan-akan tak ada lagi jalan yang bisa dilewati untuk menemukan kedamaian. Ada cinta, namun cinta ternyata tak cukup kuat untuk mendobrak dinding kegalauan ini. Ada hiburan, dan hiburan ternyata tak cukup menarik untuk mengalihkan hati dari ketertekanan itu. Ada teman, hai, dimanakah teman-teman itu.? ternyata merekapun terlalu sibuk untuk sekedar mendengarkan keluhanku.
Akhirnya hanya makian dan umpatan yang keluar sebagai wujud ekspresi mengubur rasa penat dihati. Maafkan aku Tuhan, aku tak cukup tangguh untuk menghadapi apa yang Engkau berikan saat ini. Namun aku berjanji untuk mempelajari cara-cara terbaik, teknik-teknik terjitu untuk menghadapinya selayaknya hamba-hamba-Mu yang tangguh yang telah Engkau abadikan dala kitab suci.
Kiranya Engkau sudi meminjamkan satu malaikat-Mu untuk jadi teman dengan cahaya dan sayapnya yang mungkin bisa membawa aku sejenak terbang ke ujung cakrawala, bersilaturahmi pada sang mentari, bercanda dengan awan, dan bermain-main dengan angin.
Tuhan, aku berharap malam ini hingga esok kau selimuti aku dengan kasih-Mu.
Aku rapuh Tuhan....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar