Semua cuma formalitas dan basa basi bagi kamu. Semua hal yang kamu lakukan, entah mengenai perasaan orang lain atau tidak, kamu tidak pernah peduli. Selama semuanya menguntungkan kamu, maka kamu merasa pantas melakukannya. Hal yang paling memuakkan di dunia ini bagiku adalah mengabaikan dan menganggap remeh kepercayaan orang lain, dan itu kamu lakukan dengan santai dan bahagia saja.
Aku tidak pernah memahami jalan pikiranmu, manis, busuk, kejam, tanpa perasaan, atau entah apa lagi kata yang bisa mengambarkannnya. Yang aku tahu bahwa kamu melakukan apapun dengan baik jika itu hanya tentang kepentinganmu, hanya tentang keuntunganmu.
Sekarang, aku mulai mengerti jika kamu tak sebaik yang kamu tampakkan sebelumnya. Kamu mulai melepaskan topengmu. Topeng yang selama ini aku lihat di kepribadianmu yang ternyata palsu, atau bahkan bukan dirimu sama sekali.
Wajar jika aku muak, kecewa, marah. Aku hanya berharap kamu segera menyadari bahwa yang kamu jadikan prinsip dalam hidupmu itu sebuah kesalahan. Kesalahan yang bisa saja menjerumuskanmu dalam bahaya yang sama sekali tidak pernah kamu perkirakan sebelumnya.
Sadarlah, dan berhati-hatilah.
Good Bye
Sabtu, 27 September 2014
Minggu, 22 Juni 2014
Rebutan Pintu
By: Yudi Wahyu, based ontrue story.... J
Kisah konyol ini
terjadi saat saya masih tinggal di sebuah pesantren di wilayah pesisir selatan Cilacap,
Jawa Tengah. Seperti umumnya santri apalagi santri cowok, saya dan teman-teman
saya sering tidur di luar ruangan saat malam (outdoor sleeping) :D, dan saat itu saya beserta 5 teman saya tidur di emperan asrama yang memang
cukup luas. Asrama kami yang paling dekat dengan jalan kampung, diamana umumnya
warga kampung disitu banyak yang memelihara anjing.
Malam itu kami berenam pun tertidur
dengan lelap dan pulasnya, sampai kira-kira pukul 02.00 dini hari ketika
tiba-tiba salah seorang teman saya yang posisi tidurnya paling pinggir di
lantai emperan asrama berteriak “ada anjing..ada anjing...!”
Saya spontan bangun dan tengok kiri
kanan, dan betul saja seekor anjing berwarna coklat yang cukup besar sudah berdiri
di bawah lantai asrama kami yg tingginya kira-kira setengah meter dari permukaan
tanah sambil menjulurkan lidahnya, teman-teman saya yang lain (4 orang) juga
serentak bangun seperti prajurit yang mendengar musuh datang, dan dalam keadaan
masih setengah sadar kami berenam pun berloncatan ke arah pintu asrama yang
lebarnya kira-kira hanya setengah meter lebih 30 centi untuk saling berebut
bisa masuk lebih dulu, akhirnya pintu sempit itu pun dijejali oleh tubuh 6 orang
dewasa secara bersamaan. Uniknya saat kejadian itu berlangsung diantara teman-teman
saya, ada yang hanya dapat masuk sampai leher, sampai kaki, bahkan ada pula
yang masuk hanya kepala saja, sedangkan saya yang berbadan kecil dan
kebingungan plus panik, akhirnya ikut berjuang menjejalkan kepala saya tepat
diantara 2 paha teman saya yang berbadan cukup gembul.
Bisa dibayangkan bagaimana konyolnya kalau moment itu direkam. Satu pintu kecil dijejali 6 orang sekaligus. Dan setelah kejadian malam itu, kami tidak pernah lagi tidur di emperan asrama karena takut “dikunjungi” oleh anjing-anjing milik tetangga seperti kejadian sebelumnya.
Bisa dibayangkan bagaimana konyolnya kalau moment itu direkam. Satu pintu kecil dijejali 6 orang sekaligus. Dan setelah kejadian malam itu, kami tidak pernah lagi tidur di emperan asrama karena takut “dikunjungi” oleh anjing-anjing milik tetangga seperti kejadian sebelumnya.
![]() |
| Ilustrasi (saya yang paling bawah :D) |
Sekian cerita konyol saya, salam hangat persaudaraan,,,
Terima kasih....
Tuliskan juga kisah-kisah konyol,lucu dan kocakmu, klik
gambar dibawah ini....
Jumat, 16 Mei 2014
Jalan Pulang (sajak by : Yudi Wahyu, on san-rasan.blogspot.com)
Jika memang aku harus pergi.
Biarkanlah aku pergi.
Aku mencari jalanku, aku mencari impianku.
Dan jika aku harus mati dijalanku.
Atau aku harus menderita dalam pencarian impianku,
Biarkanlah itu terjadi.
Aku tidak akan pernah mengemis padamu, ayah.
Aku tidak akan pernah merengek padamu, ibu...
[Paiton, 22 Maret 2013]
Biarkanlah aku pergi.
Aku mencari jalanku, aku mencari impianku.
Dan jika aku harus mati dijalanku.
Atau aku harus menderita dalam pencarian impianku,
Biarkanlah itu terjadi.
Aku tidak akan pernah mengemis padamu, ayah.
Aku tidak akan pernah merengek padamu, ibu...
[Paiton, 22 Maret 2013]
Langganan:
Komentar (Atom)

